Setelah kanker lambungnya menyebar, ia ingin kembali menikmati makan
Bagi Grace, penanganan diukur melalui pencitraan dan pemeriksaan darah, tetapi juga melalui makan yang bisa ia jalani. Kisahnya mengikuti sepuluh bulan pengendalian penyakit dan progresi yang menyusul.

Grace mulai tidak menyukai perasaan diawasi saat makan.
Keluarganya berniat baik. Mereka menyiapkan nasi, menaruh makanan di piringnya, dan berharap ia bisa makan sedikit lebih banyak daripada hari sebelumnya. Ia memahami kepedulian mereka. Namun, kadang ia merasa mual; kadang perutnya nyeri. Beberapa kali, sumbatan usus membuatnya harus berhenti makan sama sekali dan menjalani dekompresi saluran cerna.
Sebelum sakit pada usia 40 tahun, makan malam jarang menuntut banyak pertimbangan. Ia dan suaminya sama-sama bekerja; siapa yang pulang lebih dulu akan memasak. Jika keduanya terlambat, makanan sederhana sudah cukup. Mereka makan, merapikan, lalu melanjutkan sisa malam.
Kemudian, ketika seseorang bertanya bagaimana harinya, jawabannya sering dimulai dengan apakah ia berhasil makan.
Pada Mei 2022, Grace mengalami nyeri perut bagian atas, mual, dan muntah. Pemeriksaan menemukan banyak cairan di perutnya dan massa di dekat lambungnya.
Para dokter mengeluarkan cairan itu dan mengambil biopsi massa tersebut. Jaringan itu mengandung adenokarsinoma metastasis, dan sel kanker dalam cairan perut juga menunjukkan tumor yang berasal dari saluran cerna.
Ia masih berusaha memahami ketidaknyamanan di perutnya ketika mendengar bahwa kankernya sudah menyebar. Ia ingin pemeriksaan berikutnya memastikan dari mana kanker itu bermula.
Namun, gastroskopi dan kolonoskopi pada Juni tidak menemukan keganasan yang jelas. Laparoskopi berikutnya menunjukkan banyak nodul pada omentum mayor dan minor, yaitu lipatan jaringan di dalam perut. Sampel menunjukkan adenokarsinoma berdiferensiasi buruk dengan sel cincin signet.
Kankernya terkonfirmasi. Namun, asal mulanya masih belum pasti.
Grace membayangkan diagnosis datang lebih dulu, lalu penanganan menyusul secara berurutan. Kenyataannya, sebagian jawaban sudah jelas sementara yang lain masih jauh dari jangkauan. Ia bertanya-tanya apakah gastroskopi yang negatif berarti ada penjelasan lain. Para dokter harus menjelaskan bahwa hal itu tidak membatalkan temuan kanker pada nodul dan cairan di perutnya.
Pada Juni, ia memulai kemoterapi di Zhongshan Hospital, Fudan University, dengan paclitaxel terikat albumin, fluorouracil, dan leucovorin. Pencarian tumor primer berlanjut seiring penanganan.
Ia menyerahkan pekerjaannya, dan keluarganya mengambil alih hal-hal yang biasanya ia urus di rumah. Awalnya, ia ingin tahu bagaimana setiap tugas dikerjakan. Lama-lama, ia melepaskan sebagiannya. Ia membutuhkan tenaganya untuk penanganan, dan kadang perlu sedikit waktu tanpa pertanyaan yang harus dijawab.
Pemeriksaan jaringan dan molekuler yang lebih rinci mencari ciri yang dapat memandu penanganan. Satu temuan menonjol: amplifikasi gen FGFR2.
Nama itu tidak banyak berarti bagi Grace. Penjelasannya, FGFR2 membantu meneruskan sinyal untuk pertumbuhan sel; salinan gen yang berlebih dapat membuat sinyal tersebut aktif secara tidak normal. Hasilnya menunjukkan kemungkinan adanya target.
Para dokter mempertimbangkan menambahkan pemigatinib, inhibitor FGFR, pada kemoterapinya. Untuk bentuk kanker lambung ini, itu pendekatan yang disesuaikan berdasarkan temuan molekuler. Pemeriksaan itu memberi alasan untuk mempertimbangkan obat tersebut, tetapi belum bisa memastikan sebelumnya apakah tumornya akan merespons.
Ia ingin memahami dasar buktinya, efek samping tambahan apa yang mungkin ia hadapi, dan apakah rencananya dapat disesuaikan bila ia sulit menjalaninya.
Pemigatinib ditambahkan pada Agustus 2022.
Selama penanganan, enzim hatinya meningkat berulang kali, kadang sampai tingkat yang memerlukan perhatian medis. Tim menangani kelainan tersebut dan menggunakan pemulihannya sebagai acuan pemberian obat berikutnya.
Ia mulai mengenali bagian-bagian pada laporan pemeriksaan darah yang dulu tidak pernah ia perhatikan. Di samping pertanyaan tentang apa yang terjadi pada kankernya, hampir di setiap kunjungan ada pertanyaan lain: apa yang bisa ditoleransi tubuhnya berikutnya?
Sumbatan usus juga mengganggu penanganan dan kehidupan sehari-hari. Setiap episode berarti tidak ada makanan melalui mulut dan tindakan seperti dekompresi saluran cerna sampai fungsi usus membaik.
Ia merasa ngeri pada gangguan itu justru ketika ia merasa mulai menyesuaikan diri dengan rutinitas. Makanan yang disiapkan di rumah tidak tersentuh. Rencana dibatalkan. Perawatan rumah sakit mengambil alih lagi.
Seiring waktu, ia lebih terus terang kepada keluarganya tentang bantuan yang ia butuhkan. Pada hari-hari tertentu ia ingin ditemani. Pada hari lain ia ingin tenang. Ketika tidak bisa makan, ia tidak ingin berulang kali menjelaskan atau merasa bahwa meninggalkan makanan berarti ia belum berusaha cukup keras.
“Saya akan bilang kalau sudah bisa makan,” katanya kepada suaminya.
Pertanyaan di meja makan menjadi lebih jarang. Ketika nafsunya makan muncul, ia bisa menikmatinya perlahan. Ketika badannya tidak enak, ia tidak lagi harus memasang raut menenangkan demi orang lain.
Pada Januari 2023, gastroskopi lain akhirnya menemukan lesi di badan lambung. Patologi memastikan karsinoma sel cincin signet. Berbulan-bulan setelah gejala perut pertama, ada jawaban yang lebih jelas tentang dari mana penyakit itu bermula.
Hal itu tidak membuat penanganan lebih mudah. Namun, itu membantunya memahami bagaimana tumor lambung berhubungan dengan penyakit yang sudah ditemukan di seluruh lapisan perut.
Penilaian CT menunjukkan penyakit stabil pada Januari dan lagi pada Maret.
Awalnya, Grace merasa kata “stabil” mengecewakan. Ia ingin mendengar bahwa tumornya mengecil. Setelah sumbatan, kesulitan makan, dan masalah hati, kestabilan tampak sebagai hasil yang kecil dibandingkan apa yang telah ia jalani.
Dokter menjelaskan arti penilaian itu: kankernya tidak membesar cukup untuk memenuhi kriteria progresi, dan tidak menyusut cukup untuk disebut respons. Menahan penyakit metastasis tetap terkendali untuk sementara waktu itu berarti, meskipun bukan perbaikan seperti yang ia harapkan.
Ia masih berharap lebih. Namun, di antara penanganan, ada hari-hari ketika ia bisa duduk di meja makannya sendiri, menyantap sesuatu yang ia inginkan, dan mendengarkan suaminya berbicara tentang hal yang tidak berkaitan dengan rumah sakit.
Pada Maret 2023, ia menjalani penanganan di rumah sakit lain. Kemoterapinya dilanjutkan, pemigatinib tidak digunakan, dan obat imunoterapi nivolumab ditambahkan.
Bilirubin dan enzim hatinya kemudian meningkat cukup tinggi hingga mencapai kelainan derajat 3. Para dokter menduga cedera hati itu mungkin berkaitan dengan imunoterapi.
Ia kembali ke Zhongshan Hospital dan menerima penanganan, termasuk methylprednisolone dan imunoglobulin. Butuh sekitar satu bulan agar hasil pemeriksaan hatinya membaik ke tingkat kelainan yang lebih ringan.
Grace khawatir menunda penanganan kanker. Ia juga khawatir memakai lebih banyak obat sebelum tubuhnya pulih. Keputusan itu tidak lagi bisa disederhanakan menjadi seberapa cepat ia bisa memulai rangkaian berikutnya.
Pada April, pemigatinib dimulai lagi dengan dosis lebih rendah, tanpa kemoterapi lanjutan.
Regimennya berubah beberapa kali: kemoterapi dengan pemigatinib, periode yang mencakup imunoterapi, lalu pemigatinib dosis lebih rendah saja. Perubahan itu mencerminkan kondisi penyakit sekaligus kemampuan tubuhnya menoleransi penanganan.
Pada Mei, kankernya mengalami progresi.
Ia telah mengikuti semua rencana, menghadiri jadwal konsultasi, dan menghadapi komplikasi demi komplikasi. Ia tahu tidak ada yang menjanjikan pengendalian yang bertahan lama. Pengetahuan itu tidak membuat hasilnya lebih mudah didengar.
Laporan kasus mencatat selang waktu tanpa progresi selama sepuluh bulan pada rangkaian penanganan lini pertama ini, yang mencakup kemoterapi, terapi tertarget, dan penyesuaian berikutnya.
Grace menjalani bulan-bulan itu dalam potongan yang lebih kecil: memulai penanganan, menunggu pencitraan, pulih dari sumbatan, menyaksikan hasil pemeriksaan hatinya membaik perlahan. Ada hari-hari yang mirip kehidupan sebelum sakit, dan ada pula hari ketika segalanya bergantung pada kondisi tubuhnya.
Kini penilaian lain dan keputusan lain sudah menanti.
Suaminya mendengarkan hasil itu bersamanya. Ia tidak langsung menyuruhnya terus bertahan. Kembali ke tempat mereka menginap, ia mengatakan belum ingin membahas laporan itu untuk sementara. Mereka duduk bersama dan membicarakan urusan kecil yang belum selesai di rumah.
Kemudian, ia mengambil berkasnya dan mulai mencatat pertanyaan untuk jadwal konsultasi berikutnya. Ia ingin tahu apa lagi yang bisa dilakukan, dan seberapa banyak penanganan yang masih bisa dijalani tubuhnya. Ia juga ingin dokter memahami hal yang penting bagi dirinya. Ketika ia bisa makan, ia berharap dapat duduk menyantap makanan dengan tenang.